Berkat

“Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya”

Pastinya kutipan diatas tidak asing dan sering kita jumpai. Dan mungkin menjadi kutipan favorit bagi sebagian orang di dalam hidupnya. Siapapun pastinya ingin memiliki hidup yang selalu diberkati, dan hanya berkat dari Tuhanlah yang membuat kita menjadi kaya. Bicara soal kaya disini tidak selalu melulu berkonsepkan soal materi/ uang saja. Tapi dapat diartikan juga dalam luas atau sempitnya pola pikir yang kita miliki.

Jika kita boleh melihat diri kita sendiri, seringkali kita jauh lebih mengharapkan sebuah kehidupan yang selalu diberkati. Dan memang Tuhan mau kita memiliki hidup yang berkelimpahan. Berkelimpahan disini diartikan bahwa Tuhan mau kita memiliki hidup tak berkekurangan. Tapi mungkin ada beberapa orang berpikir, kalau Tuhan mau kita memiliki hidup yang diberkati, mengapa masih ada orang yang memiliki hidup yang berkekurangan?

Itulah yang akhirnya menggelitik saya untuk mencoba membagikan perenungan tentang berkat dalam jurnal kali ini.

Seringkali kita memandang berkelimpahan atau kekurangan diartikan sebagai si “kaya” dan si “miskin”. Dan keduanya merupakan sebuah gambaran kondisi/ keadaan. Si kaya didefinisikan orang yang mampu berbagi dalam kehidupan mereka, namun Si miskin adalah orang yang miskin diartikan orang yang tak mampu untuk berbagi dalam kehidupan mereka. Dan ternyata, setelah saya renungkan kedua tipe diatas ada sangkut pautnya dengan cara pandang / pola pikir mereka dalam soal “berkat” yang mereka terima.

Masihkah sobat ingat di jurnal sebelumnya yang berjudul Stewardship, saya telah mencoba membahas bahwa dalam kehidupan kita adalah “pengelola” dan Tuhan sebagai “ Si Pemilik Berkat”. Kemampuan untuk mengelola sangatlah penting untuk dapat kita kuasai dalam hidup jika kita mau memiliki kesuksesan atau keberhasilan.

Jika kita boleh amati di sekitar kita, dan mungkin kita refleksi diri. Kita lebih sering tertarik untuk mendapatkan berkat dibandingkan untuk mengelola berkat. Berkat disini dapat diartikan banyak hal : uang, kesehatan, hikmat, pernyertaan, perlindungan dan masih banyak lagi. Namun ada sebuah “kebenaran” yang harus kita ketahui bahwa jika kita tidak mampu mengelolanya, maka kita akan kehilangan semuanya itu.

Tuhan mau mendidik kita untuk menjadi dewasa. Tujuan sebuah kehidupan adalah memiliki kedewasaan.

Kedewasaan bukan berbicara soal berapa lama kita hidup, namun tentang kesiapan kita untuk menerima sebuah tanggung jawab. Tuhan tidak mau kita hanya bisa minta dan menerima berkat, tanpa kita mampu untuk mengelolanya dengan baik.

Seperti yang saya bahas diatas, bahwa dalam pengelolaan berkat Tuhan ada hubungannya dengan pola pikir “si kaya” dan “si miskin” punyai.

Cara pandang “si kaya” dalam memandang “berkat” adalah sebagai sebuah titipan. Si kaya memandang dirinya adalah pengelola. Oleh karena itu “berkat” yang “si kaya” terima bukan untuk dihabis-habiskan. Tapi mereka akan mengatur dan mengelolanya dengan sangat baik. Dan mereka mengembangkan “berkat” yang mereka miliki, hingga mereka bisa membagikan berkat yang mereka miliki kepada orang lain.

Rahasia yang membuat mereka mampu untuk mengelola berkat itu adalah mereka mencukupkan diri dengan apa yang ada di tangan mereka. Bahkan mereka membagikan berkat tersebut kepada orang yang lain yang lebih membutuhkan. Dan oleh karena mereka mampu mengelolanya dengan sangat baik, membuat berkat yang mungkin awalnya sedikit menjadi banyak dan akhirnya berkelimpahan. Dan kelimpahan yang mereka miliki diawali dari sikap mereka untuk berkata “cukup”

Berbeda dengan cara pandang “si miskin” dalam memandang “berkat”. Si miskin memandang dirinya adalah sebagai pemilik. Untuk itulah mereka akan menggunakan “aji mumpung” mereka untuk menghabiskan berkat yang mereka miliki. Akhirnya karena mereka tidak mampu untuk mengelolanya dengan baik, tanpa mereka sadari berkat yang mereka miliki akan habis. Dan akhirnya membuat mereka tak mampu membagikan berkat yang mereka miliki kepada orang lain.

Rahasia yang membuat mereka tak mampu untuk mengelola berkat itu adalah keserakahan mereka. Keangkuhan hidup, keinginan mata dan daginglah yang akhirnya membuat mereka tidak pernah berkata cukup dengan apa yang mereka miliki, dan cenderung tidak pernah puas dan selalu berupaya untuk mencari berkat walau harus menghiraukan keluarga, kesehatan mereka.

Dalam kutipan awal di jurnal ini secara jelas bahwa berkat Tuhan yang menjadikan kaya dan susah payah tidak akan menambahinya. Banyak orang berpikir salah kaprah bahwa kita tidak perlu bekerja keras dan hanya cukup dengan mengandalkan Tuhan, karena hanya berkat Tuhan yang membuat kita kaya. Sobat, bekerja keras itu sama pentingnya dengan mengandalkan Tuhan. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Dalam meraih kesuksesan tentunya tidak mungkin kita bisa dapatkan kalau kita tidak bekerja keras. Semua apa yang kita miliki dibutuhkan bayar harga. Tidak ada yang gratis di dunia ini, selain keselamatan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita. Firman Tuhan tidak melanggar aturan tersebut. Susah payah tidak akan menambahinya diartikan bahwa Tuhan tidak mau karena berkat yang kita terima nantinya akan menyusahkan hidup kita. Tuhan mau kita diberkati dan menikmati berkat tersebut dalam semua aspek. Namun seringkali yang menyusahkan hidup kita akan berkat Tuhan itu adalah kesalahan kita sendiri dalam mengambil sebuah keputusan dan prioritas.

Lebih jelasnya seperti ini, ada sebuah studi kasus oleh karena si “A” mau diberkati dalam pekerjaan, membuat si “A” menganggap enteng kesehatan, keluarga. Dan akhirnya kebiasaan tersebut menjadi sebuah“buah” dari apa yang si “A” lakukan. Dan membuat si “A” harus jatuh sakit, dan uang yang si “A” kumpulkan siang dan malam tersebut akhirnya harus gunakan untuk membayar kesehatan yang sudah si “A” sia-siakan. Dan oleh karena si “A” tidak memiliki waktu untuk keluarganya, membuat si “A” memiliki hubungan yang buruk dengan istrinya.

Studi kasus yang lain, si “B” mau diberkati Tuhan, dan Tuhan akhirnya memberkati si “B”. Namun si “B” menghabis-habiskan berkat yang Tuhan berikan. Dan oleh karena kebiasannya demi gengsi membuat si “B” harus terlilit hutang sana sini, dan akhirnya si “B” mengalami kesusahan dalam pembayaran hutang-hutangnya. Sebenarnya tidak masalah jika kita beli ini dan itu selama kita memang memiliki “uang yang cukup” untuk membelinya.

Bukankah kita pernah melihat kejadianya seperti dua studi kasus diatas? Coba renungkan apakah kita adil jika kita sebagai manusia menyalahgunakan berkat yang akhirnya kita harus berada dalam kondisi “kekurangan” dan meminta Tuhan untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang kita miliki dengan mengirimkan berkat lagi. Ini akan tetap seperti ikatan rantai yang tak akan pernah putus, jika kita tidak memutuskan diri kita untuk berubah. Hidup yang kita miliki adalah tanggung jawab diri kita sendiri. Dalam kehidupan yang Tuhan berikan memiliki sebuah kehendak bebas. Kita diberikan kebebasan untuk berpikir dan memutuskan mana yang benar dan mana yang salah. Oleh sebab itu kita harus terus memperbaharui cara berpikir kita supaya makin hari kita bisa semakin bijak, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Berkecukupan adalah sebuah keputusan, dan bukan sebuah perasaan. Tanpa memiliki keputusan untuk berani berkata “cukup”, kita tidak akan dapat memiliki hidup yang berkelimpahan.

Kita harus bijak dengan apa yang kita kelola di tangan kita. Jangan pusingkan untuk meminta berkat lebih kalau kita belum dapat mengelola apa yang ada di tangan kita dengan baik.

Berbicara tentang cukup mengingatkan saya tentang doa Bapa Kami yang berisi “Berikan kepada kami pada hari ini makanan kami secukupnya”. Secara jelas Yesus mau kita belajar untuk mencukupkan diri dengan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Dan secara jelas Paulus juga memberikan teladan serupa untuk mencukupkan diri dalam segala keadaan. Berani berkata cukup juga merupakan salah satu ciri orang yang dewasa.

Besar atau kecilnya berkat yang Tuhan berikan tergantung dari cara pandang kita dalam memandang berkat tersebut.

Kalau ingin diberkati lebih, perbesar kapasitas kita dalam mengelola berkatNya. Jangan hanya bisa mengejar berkat tanpa memiliki kemampuan yang cakap dalam mengelolanya.

Sebenarnya yang menjadi “masalah” bukan soal mampu atau tidaknya Tuhan memberkati kita dengan berlimpah, namun kesiapan atau kesanggupan kita dalam mengelolanya.

Tuhan tidak mau kita susah pada saat berkat itu harus diberikan kepada kita. Dan Tuhan akan memberikan berkatNya sesuai dengan kesiapan/ kapasitas/ kesanggupan yang kita miliki. Dia jauh lebih tahu kapasitas “berkat yang ideal” untuk kita terima, namun seringkali kitanya saja yang tidak tahu diri.

Dan tentunya dibutuhkan “kesetiaan” kita dalam mengelola apa yang ada di tangan kita. Karena kalau kita setia dengan apa yang ada di tangan kita, pada saat waktuNya tiba, kita akan dipercayakan untuk menerima berkat yang lebih besar.

Besar atau kecilnya sebuah berkat ada hubungannya dengan tanggung jawab yang akan kita pikul.

Tuhan hanya memberkati secara berlimpah kepada mereka yang mampu mengelola berkat yang Tuhan titipkan dalam kehidupan.

Biarlah dari jurnal kali ini, boleh menyadarkan kita untuk belajar mengelola berkat yang sudah Tuhan berikan di tangan kita dengan sebaik-baiknya. Karena sesungguhnya berkat yang kita terima dalam kehidupan ini Tuhan mau kita bagikan kepada orang lain, supaya nama Bapa boleh dipermuliakan melalui hidup yang kita jalani. Amin!