Strength is for Service

Sobat, tentunya kita ada di dunia ini memiliki sebuah tujuan dari Sang Pencipta. Dan rencana tujuan yang Tuhan mau untuk kita ada di dunia ini bersifat spesifik. Spesifik diartikan sebagai sesuatu yang khusus/ otentik. Oleh sebab itu tiap-tiap orang tentunya akan berbeda satu dengan lainnya. Dan Tuhan mau kita menjalankan tujuan tersebut dalam hidup kita.

Sobat, tujuan hidup kita biasanya dapat kita temukan pada potensi/ talenta yang Tuhan taruh dalam hidup kita. Potensi merupakan harta terpendam yang Tuhan taruh dan harus kita temukan sendiri. Dan akhirnya potensi tersebut akan menjadi kompetensi atau sebuah kekuatan untuk kita bisa menjalani kehidupan, bahkan bisa dipakai untuk menolong orang lain.

Kekuatan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita adalah untuk melayani sesama.

Tuhan tidak pernah melarang kita untuk menggunakan kekuatan/ kekuasaan/ potensi itu untuk menjadikan diri kita sukses & kaya. Namun Tuhan mau kita memiliki hidup yang berbuah. Hidup yang berbuah adalah hidup yang dapat dinikmati oleh orang lain.

Kekuatan yang sebenarnya adalah kekuatan yang dapat dinikmati orang lain.

Nah kali ini saya mengajak para sobat untuk belajar tentang hal “kekuatan“, dari Sang Inspirator hidup saya, yaitu Yesus. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan/ kekuasaan yang kita punya hendaknya kita gunakan untuk melayani orang lain. Banyak sekali di masa sekarang beberapa orang menggunakan kekuatan mereka untuk sesuatu hal yang menguntungkan diri mereka sendiri. Tapi hal itu tidak berlaku dalam kehidupan Yesus.

Dalam kisah Yesus membasuh kaki para muridnya, secara jelas memberikan sebuah pelajaran hidup yang berarti buat saya. Dari sanalah saya boleh belajar tentang gaya kepemimpinan yang Yesus miliki. Yesus telah memperlihatkan bahwa kebesaran sebuah pelayanannya bukan terletak pada status yang dia miliki. Namun terletak dari nilai yang Yesus tambahkan kepada orang lain. Yesus telah mengajarkan untuk menjadi seorang pemimpin yang benar, hendaknya dimulai dari memiliki sikap hati untuk melayani.

Selling is Serving

Untuk memiliki sikap hati melayani tidak hanya kita bisa terapkan dalam gereja saja, namun sadarkah kalau kita bisa menerapkannya di dalam lingkup pekerjaan kita. Bukankah bisnis/ penjualan yang terbaik itu adalah di mulai dari sebuah pelayanan? Banyak usaha  yang harus mengalami kebangkrutan/ kekurangan pelanggan, dikarenakan kurangnya pelayanan yang mereka berikan kepada para pelanggan. Dan tentunya juga ada perusahaan kecil yang mengalami kesuksesan besar karena mereka memiliki budaya dan melakukan kebiasaan untuk “melayani yang terbaik” kepada para pelanggannya. Mereka mengutamakan pelayanan (service) untuk pelanggannya. Begitu juga dengan diri kita, dengan melakukan yang terbaik dengan apa yang ada di tangan kita untuk melayani, maka pelayanan yang kita berikan akan membuat orang lain yang kita layani akan tidak cepat lupa atas pelayanan yang kita berikan.

“… Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” – Matius 20:26-27

Dari ayat di atas Yesus mengajarkan untuk menjadi terkemuka hendaknya kita menjadi pelayan bagi orang lain. Yesus mau kita mendahulukan kepentingan orang lain lebih terutama dibandingkan kepentingan pribadi. Ketika kita melayani dengan kapasitas yang besar dan menggunakan potensi/ kekuatan yang kita punya maka hasil yang akan di dapatkan akan memiliki sebuah pengaruh yang besar untuk orang lain.

Salah satu kunci untuk melayani adalah berfokuskan kepada kepentingan orang lain dan bukan untuk kepentingan diri sendiri.

Banyak orang yang di masa sekarang menginginkan memperebutkan sebuah kekuasaan. Dengan kekuasaan banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Padahal besarnya sebuah kekuasaan berkaitan dengan tanggung jawab yang harus dipikul.

Kematangan karakter seseorang akan menentukan pantas atau tidaknya dia mendapatkan kekuasaan. Karena kekuasaan yang besar membutuhkan karakter yang kuat untuk menanggung tanggung jawab yang besar.

Semua potensi, kekayaan, jabatan, status bukanlah sebuah hal yang kekal di dunia ini. Tentunya Yesus tidak mau kita menggantungkan hidup kita diatas itu semua. Justru Yesus mau kita menggunakan semua potensi, kekayaan, jabatan, dan status untuk menjadi berkat bagi orang lain, lewat melayani.

Tanpa karakter yang kuat, segala kekuatan yang di dapatkan bisa digunakan untuk keuntungan diri sendiri. 

Kita seharusnya perlu bersyukur, kalau misalnya pada saat ini kita masih belum diberikan kekuasaan, kekayaan, jabatan, karena Tuhan mau menyelamatkan kita, karena tanpa memiliki karakter yang baik, kita belum tentu dapat menangani semua yang Tuhan berikan itu.

Melayani berbicara diri kita sebagai tempat untuk “memberi“dan bukan”menuntut.”
Melayani berbicara diri kita sebagai tempat untuk “mendahulukan orang lain.”

Biarlah akhir dari jurnal saya hari ini akhirnya boleh membawa pelajaran yang positif tentang sebuah pemikiran baru tentang kekuatan dan pelayanan dari keteladan hidup yang Yesus miliki, yaitu :

Kekuatan yang kita punya, dapat kita gunakan untuk membela yang lemah, dan bukan digunakan untuk menekan yang lemah. Kita diberi berkat untuk menjadi kaya, selayaknya dapat digunakan untuk membantu yang miskin dan membutuhkan. Dan jika kita diberikan kepandaian, hendaknya Tuhan mau kita gunakan untuk membantu orang yang tidak pandai, dan bukan untuk menghina orang yang tidak pandai.

1 reply to Strength is for Service