Kaya & Miskin

Jika saya diminta untuk memilih mau menjadi kaya atau miskin, tentunya saya akan memilih menjadi orang yang kaya. Yes! impian saya ingin menjadi orang yang kaya. Sampai sekarang saya masih ingin meraih impian saya menjadi orang yang kaya.

Anggapan saya untuk menjadi orang yang kaya awalnya karena saya tidak mau susah dalam menjalani kehidupan ini. Namun seiring dengan waktu, akhirnya ada pertanyaan yang besar di kepala saya, siapkah saya untuk menjadi orang yang kaya?

Dulunya anggapan saya tentang siapa orang kaya itu masih sebatas dari banyaknya harta/ uang yang dimiliki. Namun sampai pada akhirnya saya mendapatkan sebuah pencerahan tentang sebuah nilai pelajaran hidup tentang siapakah orang yang kaya itu dan siapakah orang yang miskin itu.

Kaya atau miskin bukan terletak pada seberapa banyak uang yang kita punya, namun terletak pada seberapa besar atau sempit pemikiran yang kita miliki.

Awalnya saya beranggapan bahwa orang yang berlimpah harta adalah orang yang kaya. Namun seiring dengan banyaknya pelajaran hidup yang saya jalani akhirnya membukakan mata saya bahwa banyak orang yang kaya masih memiliki mental orang yang miskin, yaitu merasa terus menerus dirinya kurang. Contoh soal adalah pejabat publik yang kita ketemui harus terlibat dalam skandal korupsi.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Itu semuanya karena mereka belum memiliki cara pola pikir/ mental orang kaya.

Salah satu karakter orang yang miskin adalah mereka selalu merasa kekurangan. Karena merasa kurang inilah yang akhirnya membuat mereka susah untuk berbagi untuk orang lain (pelit)

Dan orang yang kaya adalah orang yang selalu merasa cukup dari apa yang mereka miliki. Mereka tidak takut kekurangan. Dan karena mereka cukup, membuat mereka ingin selalu berbagi kepada orang lain.

Kemiskinan bersumber dari pemikiran yang sempit dan mereka hanya memikirkan keadaan diri mereka sendiri (egois),  seperti hal-nya orang yang “aji mumpung” : mumpung dibayarin, mumpung gratis.

Kemiskinan menggambarkan sebuah keadaan. Keadaan yang bagaimana?

Keadaan yang kurang. Baik kurang dalam iman, pengharapan, pengetahuan, kepercayaan diri, dan energi. Dan akibatnya mereka akan malas dan menjadi miskin. Seperti yang saya bahas diatas, bahwa orang yang miskin selalu memikirkan diri mereka sendiri, sehingga yang dipikirkan adalah bagaimana menghasilkan sesuatu untuk kepentingan mereka dan bukan untuk kepentingan orang lain.

Orang yang miskin dapat juga membawa mereka menjadi orang yang tamak/ rakus. karena di dalam diri mereka akan merasa selalu dalam kondisi takut dalam kondisi yang berkekurangan.

Saya akan coba berbagi apakah perbedaan orang yang miskin dan orang yang tidak punya uang (bokek)?

Orang yang tidak punya uang (bokek) lebih bicara dalam kondisi dompet, tetapi orang yang miskin bicara dalam kondisi pikiran.

Hal ini baru akan kelihatan perbedaanya pada saat mereka mendapatkan uang.

Orang yang tidak punya uang, jika dibantu maka dia akan berusaha untuk mencukupi kebutuhan-nya, dan akan berpikir bagaimana menggandakan apa yang ada dari sisa dari bantuan uang yang didapat.

Ada empat tipe karakter pribadi yang menggambarkan orang yang kaya & miskin :

 

kayapolapikir

Karakter 1 :

Mereka adalah golongan orang yang mempunyai uang yang berlimpah, namun sayangnya mereka memiliki pola pikir yang sempit dan miskin, dan akhirnya membuat mereka menjadi bodoh, tidak mau belajar dan ditegur oleh orang lain.  Biasanya orang-orang seperti ini akan semena-mena dengan kekayaan mereka, susah menjadi berkat bagi orang lain dan lebih cenderung sebagai orang yang kaya namun norak (maaf : bisa dibilang kampungan).

Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi. Karena dari penjara orang muda itu keluar untuk menjadi raja, biarpun ia dilahirkan miskin semasa pemerintahan orang yang tua itu.

Pengkhotbah 4:13?-?14 TB

 

Karakter 2 :

Mereka adalah golongan orang yang tidak punya uang dan sempit cara berpikir-nya, selalu merasa kekurangan, dan seolah-olah anda yang bertanggung jawab akan hidup mereka. Biasanya orang seperti ini akan berlaga kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa.

Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa, ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak.

Amsal 13:7 TB

 

Karakter 3 :

Mereka adalah golongan orang-orang yang belum punya uang, namun memiliki pola pikir yang kaya, mereka memiliki mental/ karakter seperti orang kaya. Orang-orang ini belum punya uang, tetapi cara berpikirnya luas. Orang ini hanya akan menunggu waktu saja karena dengan segera ia akan segera naik ke level yang lebih tinggi dan menjadi orang yang mempunyai uang, dan mereka akan menjadi berkat bagi orang lain melalui berkat/ uang yang mereka terima.

Jika anda belum punya uang, tetapi kaya akan hikmat dan luas cara berpikirnya, maka penjara yang anda punya, dan keadaan anda saat ini hanya sementara saja, dan anda akan bisa berdiri sendiri dan menjadi seorang raja, tinggal tunggu waktu saja untuk punya uang dan dipercaya.

Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya.
Amsal 28:6 TB

 

Karakter 4 :

Mereka adalah golongan orang yang punya uang dan pada saat bersamaan, mereka kaya dan berlimpah cara berpikir-nya. Suka memberi, dan akhirnya mereka mencapai sebuah kelimpahan dalam hidupnya.

 

Mari kita ambil satu skenario, katakan keempat orang diatas berkunjung dan makan di sebuah restoran :

Orang yang memiliki karakter 1 :

Orang itu akan makan dengan seenak-nya, dan mulai hitung sambil makan, bahwa secara nominal, ia tidak mau rugi dan tidak mau selesai makan sampai angka nominalnya pas dan tidak tersisa sepeserpun, meski kondisinya sudah kenyang.

Ia makan karena pelit, dan orang seperti ini tidak akan memberikan tips bagi si pelayan.

Orang yang memiliki karakter 2 :

Orang itu akan menjadi ramai dan full drama, jika ia ditraktir, maka ia akan mengambil semuanya dan menjadi aji mumpung. Kalau perlu ia juga akan mengusahakan untuk membungkus makanan yang ada. Dan mungkin beberapa yang saya temui, orang-orang seperti ini akan menyiapkan tas plastik untuk membungkus makanan yang ada.

Orang yang memiliki karakter 3 :

Pada saat orang tipe no 3 ini akan masuk dan di traktir oleh seseorang (karena kondisi dia tidak memiliki uang) maka yang dilakukan pertama kali oleh-nya adalah ia akan berterima kasih oleh orang yang mentraktirnya, dan dia akan makan dengan secukupnya dan self control, tidak komplain dan tidak aji mumpung.

Orang yang memiliki karakter 4 :

Orang itu akan makan karena ia lapar, dan ia akan ambil secukupnya karena ia tahu kondisi kesehatan-nya, dan ia akan memberi tips yang baik bagi si pelayan.

Kembali di sebuah pertanyaan dalam diri saya, “Siapkah saya menjadi orang yang kaya?”

Akhirnya saya menyadari semuanya bahwa bukan soal siap atau tidak siap untuk menjadi orang yang kaya, namun sudah cukupkah mental saya sebagai orang kaya? Jangan sampai ketika saya nantinya menjadi orang yang kaya, malahan membuat hidup saya tidak menjadi berkat bagi banyak orang. Dan ujung-ujungnya saya menjadi orang yang pelit dan serakah.

Semakin banyak yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, semakin besar tanggung jawab yang diharapkan Tuhan dari diri kita. 

Ungkapan diatas yang akhirnya menjadi sebuah perenungan hidup bagi saya bahwa semakin banyak yang TUHAN percayakan dalam berkatNya kepada saya, tentunya akan semakin besar suatu berkat yang harus saya bagikan kepada banyak orang.

Blessed to be blessing

Karena kekayaan sesungguhnya bukan terletak pada uang yang saya miliki, namun terletak dari dalam kedamaian dalam hati saya. Memang terkadang uang memang bisa membeli sebuah kebahagiaan, namun jika kita bisa pergunakannya dengan benar.

Saya menemukan sebuah kekayaan yang lebih berarti ketika saya masih memiliki keluarga yang mengasihi saya, teman-teman yang selalu mendukung saya, impian, cinta, karakter, pelajaran hidup, kepercayaan yang saya dapat dari orang lain, kesehatan, waktu dimana saya bisa ada bersama keluarga, dan teman-teman yang berarti bagi hidup saya. Dan satu hal yang membuat saya menyadari bahwa saya begitu kaya di saat saya memiliki Tuhan Yesus di dalam hidup saya. Dia sudah mengasihi saya dan Dia tunjukkan dengan kerelaannya berkorban untuk menebus dosa saya. Dan tentu semuanya ini tidak dapat saya dapat mengukur dan menilainya dengan uang atau apapun juga.

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya , ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.

Amsal 11:24